DAERAHHUKRIMNEWS

ORTU Korban Mengaku Dipaksa Tandatangani Surat Pernyataan, Atas Dugaan Kasus Penganiyaan

BOALEMO – PoliyamaTopFm – Kelompok masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Masyarakat Boalemo Bersatu (GMBB) #Bela Bupati, menggelar Konferensi Pers, di Puncak Desa Bajo, Jumat, (4/9/2020).

Gerakan yang dipimpin langsung koordinator lapangan, Noldy Biya, diikuti sejumlah massa aksi, bersama pasangan suami istri, Arif Idrus (70) dan Hamuri Sako (67), dilakukan untuk mengklarifikasi desakan penandatanganan surat pernyataan atas kasus penganiyaan yang melibatkan Darwis Moridu 10 tahun lalu.

Kepada sejumlah awak media, didampingi sang suami, lelaki paruh baya,Arif Idrus, wanita paruh baya, Hamuri Sako, ibu korban (Alm. Alwi Idrus_red), mengaku menandatangani Surat Pernyataan, karena desakan anak sulungnya.

“Ja otawa lamiyatiya. Talo delo mayi uwito tuladu bo walao latiya tamo hula. Patao donggo pobaca lamitaya, jayilohi li mongoliyo. Tandatanganiya lomao ama. I watiya lo tandatangan. Bo ja’otawa lamiyatiya wolo utila tandatanganiya,” ungkap Hamuri kecewa dalam bahasa Gorontalo

“kami tidak mengetahui isi suratnya. yang membawa surat itu anak sulung saya. Ketika kami ingin membaca langsung, didesak untuk tetap menandatangani. Tandatangani saja Ibu, Jadi kami Tandatangani, Sedang kami pun tidak mengetahui apa yang kami tandatangani”. ungkap Hamuri kecewa

Walaupun seringkali mendapatkan ancaman dari anak sulungnya, dikarenakan dorongan para oknum tertentu, Hamuri yang akrab dengan sapaan Mali ini menambahkan, sebagai orang tua korban sudah tidak keberatan lagi atas kasus peganiyaan tersebut.

“Amiyatiya tolo he’ancamua lo wala’a ti. Pohile limongoliyo amiyatiya ma bersama limongoliyo, li Pak Raswin. Amiyatiya jayinawo, openu wololo ti Ka Daru, amiyatiya debo woliyo (woli Ka Daru). Amiyatiya ja kabaratani,” kata Hamuri menambahkan

“kami sering kali diancam oleh anak sulung kami ini. Mereka meminta kami, agar bersama mereka (Pak Raswin). Kami tidak mau! Walau bagaimanapun kami tetap bersamanya (Darwis), dan kami sudah tidak keberatan lagi,” kata Hamuri menambahkan

Selama 4 hari disekap di kediaman Raswin Asuna, selain desakan dan ancaman, ORTU Korban Penganiyaan ini juga mengaku sering kali diperlukan tak pantas, baik secara fisik maupun psikis.

“Amiya tiya meyi wopahui teto. to ilodungga mola lamiya tiya olo, woluwo olo ti Pak Rum Pagau to li Pak Raswin,” tutur Hamuri dan dibenarkan sang suami (Arif)

“Kami selama 4 hari disana. Setibanya kami disana juga, ada juga Pak Rum Pagau bersama Pak Raswin,” tutur Hamuri dan dibenarkan sang suami (Arif) (*)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close